Kisah di Balik Megahnya Masjid Agung Baiturrahman Malang

Masjid Agung Baiturrahman Kepanjen merupakan salah satu masjid besar di Kabupaten Malang, terutama di wilayah Malang Selatan. Tak hanya menjadi pusat kegiatan keislaman warga Kepanjen, masjid yang berlokasi di Jalan Sultan Agung No. 34 Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen ini juga menjadi tempat singgah masyarakat karena berada di sekitar jalur antarkota Malang-Blitar dan jalur menuju Pantai Selatan. Siapa sangka jika di balik kemegahan bangunan masjid ini, tersimpan kisah yang tak banyak diketahui masyarakat.

Kepada saya, Ustadz Masyhudi, Sekretaris Takmir Masjid Agung Baiturrahman Kepanjen, menuturkan bila lahan masjid saat ini dulunya merupakan tanah kosong yang luas bernama Lapangan Sawunggaling. Lapangan ini dulunya digunakan sebagai tempat penampungan para pedagang Pasar Panarukan yang kena gusur akibat proyek pembangunan Sungai Molek sekitar tahun 1900’an. Pasar penampungan ini pun menjelma menjadi Pasar Sawunggaling.

Tutupnya Pasar Sawunggaling seiring pindahnya seluruh pedagangnya ke Pasar Besar Kepanjen dalam rentang tahun 1968-1970 merupakan awal mula munculnya ide pembangunan masjid ini. Lapangan bekas Pasar Sawunggaling ini kemudian dibangun menjadi Masjid Agung Baiturrahman Kepanjen atas inisiasi KH. Mahfudz Muchtar, seorang tokoh agama terkemuka di Kepanjen, bersama sejumlah tokoh masyarakat Kepanjen lainnya.

Ustadz Masyhudi kemudian menceritakan proses pembangunan masjid ini, yang berlangsung selama hampir sepuluh tahun, dari tahun 1970 hingga 1979. Pembangunan berlangsung dua tahap, yaitu tahap pertama pada tahun 1970 hingga 1975 dan tahap kedua pada tahun 1976-1979. Sempat berhenti selama setahun lebih karena kekurangan dana, pembangunan kembali dilanjutkan di tahap kedua dengan bantuan APBD dari Pemerintah Kabupaten Malang.

Total biaya yang dihabiskan untuk pembangunan dua tahap tersebut sekitar Rp265 juta yang merupakan akumulasi dari dana swadaya masyarakat dan bantuan dari Pemkab Malang. Masjid ini kemudian diresmikan pada 28 Juni 1979 oleh Menteri Dalam Negeri saat itu, Letjen (Purn) Amir Machmud.

Eksterior masjid berukuran 70×40 meter ini didominasi warna hijau tosca. Masjid ini dilengkapi sebuah menara 52 meter yang berlapis marmer warna merah marun dan berkubah hijau tua di pojok kanan masjid. Menara ini, kata Ustadz Masyhudi, dibangun bebarengan dengan tahap kedua pembangunan.

Kubah masjid merupakan kubah enamel berwarna kombinasi biru, hijau tosca, dan putih. Kubah berbentuk bawang ini merupakan hasil renovasi pada tahun 2000. Sebelum tahun tersebut, kubah masjid berupa kubah setengah bola berbahan alumunium dan berwarna silver. Sisi dalam kubah menampakkan kerangka penyusun kubah dan tampak seperti bunga.

Interior masjid terasa lega karena tidak terdapat banyak tiang penyangga sebagaimana umumnya masjid. Hanya ada empat tiang bulat berlapis keramik hitam putih yang menyangga kubah masjid. Kalaupun ada tiang-tiang lain, itu adalah deretan tiang konstruksi berlapis keramik krem yang juga berfungsi sebagai dinding di sisi utara, timur, dan selatan masjid.

Masjid ini berarsitektur minimalis, di mana tidak banyak ornamen yang menghiasi masjid. Hanya ada lengkungan yang menghubungkan satu tiang teras dengan tiang lainnya. Suasana masjid serasa seperti ruang terbuka karena tidak ada tembok masif selain tembok di sisi kiblat. Hanya ada pintu kaca dan ventilasi besi bermotif bunga yang menutup kolom di atasnya.

*Media Opini Anak Muda, Kotomono.co

 

 Dinding sisi kiblat juga tampak minimalis, hanya berlapis keramik krem dengan kaligrafi Allah dan Muhammad. Sebagaimana kebanyakan masjid di Jawa, ada tiga ruang mihrab di sisi kiblat. Ruang tengah merupakan tempat imam memimpin salat. Ruang kanan merupakan tempat mimbar, sementara ruang kiri merupakan tempat sound system dan jam duduk. Mihrab tampak sederhana dan hanya dihiasi oleh kaligrafi kaca dan kaligrafi balok di atasnya yang merupakan potongan ayat dari Surat Ash-Shaff ayat 13.

Ustadz Masyhudi menambahkan, Masjid Agung Baiturrahman Kepanjen juga memiliki sejumlah fasilitas yang bisa dimanfaatkan pengunjung. Ada aula dan perpustakaan yang menjadi satu dengan kantor takmir di timur masjid. Aula bisa dimanfaatkan masyarakat untuk beragam kegiatan, seperti resepsi nikah, rapat, dan lain-lain. Pengunjung juga bisa membaca beragam buku di perpustakaan. Buku-buku di perpustakaan ini bisa dipinjam oleh pengunjung yang sudah memiliki kartu anggota.

Tertarik mengunjungi masjid ini? Terutama bila Anda akan berwisata ke Pantai Selatan atau ke Sumber Maron lewat Pakisaji atau dari arah Blitar, maka masjid ini cocok sekali untuk melepas lelah sejenak setelah perjalanan jauh. Tersedia parkir yang sangat luas, sehingga bukan saja kendaraan roda dua dan empat, namun bus rombongan sekalipun bisa masuk ke area masjid ini. Suasana sekitar masjid ini juga cukup teduh, sebab banyak sekali pepohonan dan tanaman hias yang tumbuh, sehingga saya jamin ibadah Anda di masjid ini semakin khusyuk dan kembali bugar sebelum melanjutkan perjalanan ke sejumlah tempat wisata di Malang Selatan.