Nih Dia Angin Segar untuk Pasar Modal di Tengah Ancaman Naiknya Risiko

Pasar modal Indonesia merasa bergairah. Investor asing merasa memborong portofolio saham dan obligasi  di Indonesia. Prediksinya, fenomena  ini dapat terus berlanjut di th. politik 2019. Meski arus modal asing merasa masuk kembali, tekanan berasal dari naiknya risiko investasi masih membayangi.

Dalam beberapa pekan terakhir, investor asing merasa memborong saham di pasar modal Indonesia. Berdasarkan knowledge RTI, di dalam sepekan paling akhir investor asing mencatatkan membeli bersih (net buy) sebesar Rp 4,99 triliun. Total net buy di dalam sebulan raih Rp 8,1 triliun. Meski belum sanggup mengimbangi total jual bersih (net sell) asing sejak awal th. yang raih Rp 47,99 triliun, setidaknya ini jadi awal yang baik di penghujung tahun. Sejak 19 Oktober lalu, dana asing merasa mengalir deras ke surat pinjaman negara (SUN).

Aliran dana yang masuk nyaris raih Rp 20 triliun per 5 November 2018. Arus masuk disebut-sebut imbas banyak ragam faktor, yakni kian menariknya SUN seiring harga yang tidak mahal dan tawaran imbal hasil (yield) tinggi, kuatnya situasi ekonomi domestik, sampai meredanya intensi perang dagang. Pasar modal asing diprediksi dapat kembali masuk ke pasar obligasi maupun pasar saham negara-negara berkembang, juga Indonesia, seiring bersama dengan meredanya tekanan di pasar finansial terhadap kuartal IV-2018. Indikasi ini terlihat berasal dari pembelian bersih (net buy) investor asing di bursa saham sebesar Rp 1,3 triliun dan di pasar obligasi sebesar Rp 5,86 triliun sepanjang pekan lalu.

Di sedang sentimen world dan domestik, Morgan Stanley memberi himbauan overweight ke Indonesia. Lembaga keuangan internasional ini merekomendasikan kliennya memperbesar portofolio investasinya di Indonesia, ketimbang negara-negara emerging market lainnya.

Arus terlihat modal (capital outflow) asing berasal dari pasar saham Indonesia terjadi lebih cepat di dalam 11 bulan dibandingkan negara-negara berkembang. Sejak pertengahan 2017, arus dana asing yang terlihat berasal dari pasar saham Indonesia raih US$ 7,7 miliar. Kepemilikan asing terhadap saham mengambang (free-float) indeks MSCI Indonesia juga turun berasal dari 75% jadi 72,5% atau setara US$ 65 miliar. Ini terhubung kesempatan investor asing kembali meningkatkan portofolionya di Indonesia.

Langkah-langkah yang diambil alih pemerintah secara moneter maupun fiskal dinilai positif. Beberapa diantaranya, langkah BI yang menggeser arah kebijakannya berasal dari pertumbuhan jadi kestabilan ekonomi, meningkatkan suku bunga acuan sampai 150 basis poin, dan kelonggaran kredit sektor properti. Kemudian kebijakan pemerintah mengurangi impor bersama dengan mewajibkan pemanfaatan 20%  biodiesel, meningkatkan tarif impor untuk 1.000 barang, dan menunda sejumlah proyek infrastruktur. Analis Morgan Stanley Asia Sean Gardiner menyebut pertumbuhan positif juga terlihat terhadap barang konsumsi dan pinjaman di sedang dinamika ekonomi world sepanjang th. ini. Dampaknya, para investor memandang pasar saham Indonesia amat prospektif di bandingkan saham-saham di emerging market lainnya.

Indeks saham Morgan Stanley (MSCI) Indonesia diprediksi dapat naik, setidaknya 7% berasal dari berasal dari posisi selagi ini, ke level 6.906 di akhir tahun. Pada 2019 indeks MSCI Indonesia berpeluang tumbuh 11% bersama dengan potensi pertumbuhan laba saham raih 14%.
Saham sektor perbankan dan telekomunikasi jadi yang paling diminati. Saham perbankan dapat terdongkrak oleh pertumbuhan kredit yang positif.

Sementara saham telekomunikasi bangkit seiring berakhirnya perang tarif dan makin tingginya pemanfaatan knowledge mobile. Sedangkan saham sektor material dan bahan baku tergolong underweight sampai th. depan. Direktur Strategi Investasi dan Kepala Makroekonomi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat menyebutkan arus modal asing dapat kembali masuk ke Indonesia, seiring sentimen investor terhadap negara emerging market makin baik. Valuasi pasar negara berkembang juga sudah tidak mahal dan meningkatkan kepercayaan investor bahwa fundamental ekonomi Indonesia stabil.

Meski terseret sentimen negatif, Indonesia masih menyatakan indikator ekonomi yang relatif kuat. Penerimaan pajak yang sampai September lantas tumbuh 17%, mengindikasikan pemerintah masih sanggup membiayai anggaran negara secara internal. Di samping itu, knowledge domestik layaknya penjualan mobil dan motor membaik dan kredit perbankan per September 2018 juga tumbuh 12,6% berasal dari periode yang serupa th. lalu.

Valuasi bursa saham di Indonesia diakui tidak mahal gara-gara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah terkoreksi 7,07% sejak awal tahun. Sementara, imbal hasil (yield) obligasi umumnya raih 8,29% per tahun. Berdasarkan knowledge RTI, penurunan IHSG lebih baik dibandingkan Indeks Komposit Bursa Shanghai yang longsor 20,4% dan Indeks Strait Times Singapura yang anjlok 10,78% terhadap periode yang sama. “Koreksi di pasar saham yang memadai di dalam memicu valuasi IHSG dan saham jadi menarik. Investor pun merasa kembali untuk masuk ke pasar saham dan obligasi.